RSS
periksalah buku kenanganmu kemarin. dan kamu akan tahu bahwa kamu masih berhutang kepada manusia dan kehidupan. -pepatah-

Nyoba bikin cerpen hehe.. kalo banyak kata-kata yang rancu harap dimaklumi, namanya juga baru belajar, let's check out below!



GERIMIS NOVEMBER BERUBAH MENJADI PELANGI

Pagi berkabut itu aku terkesiap. Mata bulatku terbelalak semakin lebar saja. Tak percaya rasanya melihat barang-barang yang berserakan dihadapanku. Pipa rokok, kertas linting, pematik gas, memenuhi meja belajar Alvi. Sebuat botol obat berukuran sedang masih menyimpan beberapa pil kecil-kecil.

Seketika muka ku terasa panas. Airmata merebak memenuhi pelupuk mataku. Alvi, Alviku yang manis mengapa jadi begini? Kuarahkan pandanganku ke seantero kamarnya yang luas. Kamar yang begitu berantakan. Majalah, Tabloid, Buku Pelajaran yang kusut akibat sering ditiduri daripada dibaca bertebaran dimana-mana. T-Shirt dan Celana Kotor yang habis dipakai tergeletak begitu saja dilantai. Sebuah gitar mengisi sudut ranjang yang spreinya hampir tidak pernah dirapikan. Ruangan yang semestinya lega ini terasa pengap.

Berapa lama aku meninggalkan Alvi dan tidak pernah memperhatikannya lagi? Lima, enam, atau tujuh tahun? Selama kurun waktu itu segalanya telah berubah. Dari Alvi yang bukan lagi adik kecilku dengan balutan seragam merah putih hingga tabiatnya yang jauh berbeda dengan Alviku dulu. Bahkan apa yang dihadapanku telah merajam dalam hatiku. Aku bukan gadis bodoh yang yang tak tahu arti dari barang-barang itu. Pil-pil itu, juga daun-daun kering dalam amplop kumal, ini sudah cukup untuk menjadi bukti. Alvi adik kecilku, telah bersahabat dengan barang-barang laknat itu.

“Apa-apaan ini?” Suara itu hampir merontakkan jantungku. Diambang pintu Alvi bersender dengan wajah yang sangat kusut. Bau rokok tercium dari badannya. Getar suaranya terdengar sebagai Alvi yang lain. Bukan Alviku! “Siapa yang ngasih izin lo buat masuk-masuk kamar gue?”

“Kamar Alvi berantakan. Kakak kira Alvi nggak punya waktu buat ngeberesin, kebetulan hari ini Kakak punya waktu. Kalo emang Kakak salah, Kakak minta maaf.” Sehalus mungkin aku membujuknya.

“Gak perlu! Gue tenang disin, ngapain sih lo ngurusin gue?” Alvi tak bergeming ditempatnya, namun semakin dalam ia membenamkan wajah dibalik topinya.

Hampir pecah tangisku melihat sikapnya yang dingin dan mendengar suaranya yang tak bersahabat. Kemana perginya Alvi yang selama ini? Ini sudah terlalu jauh dari persangkaanku. Dia berubah total, bahkan pada satu-satunya Kakak yang dimilikinya.

“Al, kamu lupa sama Kak Lala?”

“Kakak? Gue gak lagi punya Kakak. Selama ini gue sendiri, dan perlu lo tahu cuma ini surga gue!” Alvi mencibir.

Ya Allah! Kata-katanya benar-benar menohok ulu hatiku hingga terasa sakit. Sakit sekali. Tiba-tiba aku tersuruk ketempat yang paling hina. Alvi benar. Kemana aku selama ini? Aku tidak pernah memikirkannya. Tidak pernah mencari tahu apakah selama ini dia bahagia. Apakah dia dapat mengikuti semua pelajarannya. Bagaimana teman-temannya. Perhatian Papa juga, apakah wanita itu memperhatikan semua kebutuhannya aku tak pernah mau tahu. Yang aku pikirkan hanya diriku sendiri. Bahwa aku merasa kecewa dengan apa yang Papa lakukan pada kami –Aku, Alvi dan Mama- dan aku tidak sanggup menerima kenyataan itu. Tidak peduli bahwa Alvi juga sama-sama manusia yang juga memiliki hati dan perasaan sepertiku. Punya rasa sedih juga kecewa.

“Maafin Kakak, Al! Kakak janji bakal jadi Kakak yang baik kayak dulu. Alvi gak sendirian, masih banyak orang yang sayang sama kamu. Kakak pasti bantu Alvi keluar dari semua masalah ini, kita akan sama-sama lagi kayak dulu. Gimana?”

“Alaah… palingan lo bohong! Bentar lagi pasti lo ngadu ke Papa biar Papa marah dan gue diusir darisini. Ah tapi gue ga peduli mau gue diusir kek mau gue dipenjara kek!” teriak Alvi

“Nggak Al, nggak! Cukup Kakak aja yang tahu. Kakak bakal ngerahasiain ini semua. Kakak punya seorang teman, yang bisa bantu Alvi buat proses penyembuhan, Alvi mau kan? Kakak janji ini cuma kita berdua yang tahu, nggak perlu Papa tahu juga Mama dan wanita itu, oke?” Aku tahu Papa, Papa yang dimataku sungguh tidak adil. Papa yang tidak pernah meluangkan sedikit waktunya untuk kami. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Papa jika tahu Alvi memakai narkoba. Bisa kiamat dunia nantinya. Alvi terdiam.

“Kak Lala masih tetap Kakakmu, masih tetap sayang kamu, Al” ujarku meyakinkan. Kupegang tangannya yang tersembunyi dibalik kantong celananya. Ah aku sudah tidak bisa lagi merangkul bahunya seperti dulu.

“Gue pikir-pikir dulu” Akhirnya…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Langit biru kemerah-merahan. Sinar matahari tua masih menyempatkan diri. Menyapu ranting-ranting melati yang tumbuh di depan jendela kamarku. Kamar yang sudah lama sekali tak ku tempati. Kamar yang begitu banyak menyimpan kenangan juga yang telah menampung banyak airmata yang dulu tertumpah. Masih lekat dalam ingatanku semua pertengkaraan antara Mama dan Papa. Hari-hari basah bulan November kian lembab oleh airmata.

Pertikaian Mama dan Papa sudah jelas terbuka untuk umum, tidak peduli pagi atau malam juga didepan aku dan Alvi. Sarapan pagi kami adalah gebrakan meja atau makian panjang pendek Papa yang terkadang berujung tamparan dipipi mulus Mama. Tak jarang pula Papa pulang larut malam dengan tubuh sempoyongan dan mulut yang menyebarkan bau alkohol. Mama sudah tidak peduli dengan keadaan Papa. Papa mau pulang atau tidak Mama hanya diam dan diam. Tubuhnya semakin hari semakin kurus, wajahnya yang cantik berubah pucat dengan sirat mata yang memancarkan keletihan dan juga kekecewaan. Hingga hari itu tiba. Pagi yang masih dibaluti oleh kabut dan embun yang masih membasahi rumpu-rumput jepang dihalaman rumah kami.

“Baik aku terima! Ceraikan aku dan silahkan saja pergi dengan wanita itu” tegas Mama dengan raut muka tenang. Aku yang berdiri diujung tangga terpaku diam membisu.

“Kamu memang wanita pintar, Lina. Sayang tidak dari dulu kamu mengambil keputusan ini. Tentunya tak akan ada pertengakaran dan dendam tercipta. Benar kan?” nada suara Papa benar-benar seperti suara setan yang datang dari neraka. Aku kecil bergidik. Baru kali ini aku mendengar ada orang yang memiliki suara begitu kejam.

Dan sore harinya datang wanita penghancur itu. Wanita yang masih sangat muda tentunya dan tentu saja cantik. Mama tampak sangat muak bertatapan dengannya. Dengan penuh keriangan Papa melontarkan joke-joke yang menurutku sangat kampungan. Tak ada yang bisa tersenyum apalagi tertawa kecuali Papa dan wanita itu yang belakangan ku ketahui bernama Vina.

“Ini Tante Vina, La. Calon Mama baru Lala dan Alvi. Cantik kan? Ayo kasih salam sama Mama. Ucap Papa sambil menggandeng lengan kecilku. Mama? Ciih, tidak ada wanita lain yang berhak dipanggil Mama kecuali orang yang telah melahirkan aku. Kupandang galak wanita yang membungkuk dihadapanku.

“Halo sayang, apa kabar? Nih, Mama bawa bingkisan kesukaan Lala” disodorkannya sebuah bungkusan manis bersampul gambar boneka-boneka lucu. Cokelat barangkali, makanan yang paling aku sukai. Sekali sentak kutepis bungkusan itu hingga terjatuh dilantai. Remuk sepertinya. Wanita itu terpana, Papa jelas mendelik galak. Mama yang berdiri disudut ruangan tersenyum penuh kemenangan.

Alvi masih sangat kecil untuk mengambil keputusan. Dia masih belum peduli dengan siapa ia tinggal, yang peting dia mendapatkan apa yang dia mau. Tapi tidak dengan aku, aku tidak suka dengan Ibu Tiri, bisa-bisa aku disiksa nanti seperti dalam cerita dongeng yang sering kubaca.

Sore itu juga aku pergi meninggalkan rumah bersama Mama, pulang sebuah kota kecil bersama Nenek. Perceraian Mama diurus Papa. Sebab Papalah yang menginginkan hal itu. Disana Mama mencoba untuk hidup dengan usaha kecil-kecilan. Tak banyak yang Mama bisa Mama perbuat dikota kecil itu, namun yang pasti aku bisa tetap bersekolah dan hidup dengan layak. Hingga Mama memutuskan untuk menikah lagi dan aku harus meneruskan studiku di salahsatu Perguruan Tinggi di Jakarta yang menjadi pilihanku, aku pun memilih untuk tinggal bersama Papa kembali dan bersama Alvi kecilku.

Dering telepon membuyarkan lamunanku. Dengan cepat ku mengambil telepon itu dengan penuh harap. Suara salam dari seberang sana melegakkan nafasku. Kutatap jam dinding yang tetap berada dihadapanku, hampir maghrib. Betapa baiknya Kak Dani, ia selalu bisa mengerti perasaanku. Pasti ia baru pulang dari kampus dan setelah menerima pesanku lansung menelponku.

“Alvi, Kak.” Meski sudah kutata rapi perkataan yang akan aku bicarakan, namun tetap saja aku tidak bisa mengendalikan emosiku.

“Tenang La, ada apa sama Alvi?” selalu saja suaranya terdengar penuh tenang dan penuh sugesti.

“Alvi… Alvi sudah terkena naza.” Ucapku tersedak menahan tangis.

“Astagfirullahal’adzhim…! Sudah lama?”

“Dia bilang sejak SMP. Ganja, ekstasi, putaw, shabu sudah pernah dia coba. Kemarin Lala nemu semua barang itu dikamarnya.”

“Om sudah dikasih tahu?”

“Lala gak berani Kak, Lala gak tega kalo nantin Alvi dimarahin abis-abisan. Kak Dani tahu sendiri gimana tabiat Papa.” Keluhku

“Tapi untuk persoalan serumit ini Om mesti tahu, La. Alvi perlu menjalani terapi dan rehabilitasi sebagaimana seharusnya.” Sepertinya Kak Dani menyesalkanku.

“Makanya Lala minta bantuan Kakak, Kakak kan kuliah di Kedokteran, tinggal wisuda lagi, seenggaknya Kakak pasti tahu apa yang harus Lala lakuin.”

“La, benar Kakak mungkin bisa beri tahu tindakan apa yang harus dilakukan, tapi kita gak bisa sendiri dalam menangani kasus ini. Papa kalian mesti diberi tahu.” Kak Dika tetap bersikeras. Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah mengapa cobaan yang Engkau berikan begitu berat.

Dari arah kamar alvi terdengar ada suara orang yang berteriak-teriak. “Papa… Papa… ada apa dengan Alvi!” Teriak Tante Vina dari depan pintu kamar Alvi. Papa yang tengah membaca Koran diruang keluarga hanya mendongak selintas kemudian membenarkan letak kacamatanya dan meneruskan kembali membaca. Aku hampir menjerit melihat sikap Papa. Serta merta aku melompat bangkit dan berlari kekamar Alvi. Dua-tiga anak tangga ku lompati dalam satu lompatan.

“Ada apa Tan…ehm…Ma?” Tanyaku kikuk.

Terdengar suara gaduh dari dalam kamar Alvi. Samar-samar dapat kutangkap rintihan dan erangan Alvi diantara hingar music rock yang dipasangnya. Ya Allah! Kuputar handle pintu, Terkunci. “Papa!” teriakku bersamaan dengan tangis yang pecah berhamburan.

Masya Allah! Alvi begitu berantakan. Tampak ia sangat kesakitan, merintih dan meracau tak jelas ujung pangkalnya. Bajunya hampir robek karena cengkramannya sendiri. Rambut ikalnya kusut masai Papa yang mendobrak pintu terpaku tak percaya. Tante Vina melongo. Dan aku segera menghambur masuk.

“Kenapa kamu Al?” aku berusaha menggapainya, namun ia justru menyentakkan lenganku. Menatapku dengan pandangan berganti-ganti, kadang sayu dan sesaat berganti nafsu.

“Mana Kak… Mana obat gue? Gue gak tahan lagi”

Aku ingat semua pil laknat itu telah aku sita, daun-daun setan itu telah aku musnahkan, dan serbuk-serbuk maut itu telah menjadi debu. Beginikah reaksi orang yang kecanduan? Baru pertama aku melihat dengan mataku sendiri. Tampak begitu tersiksa dan kesakitan dan sosok yang begitu mengenaskan adalah Alvi. Adikku satu-satunya yang sangat aku sayang. Papa menelpon rumah sakit, dan ambulans pun segera datang lengkap beserta petugas medis. Tak tega rasanya melihat Alvi meronta-ronta dan berteriak meminta dilepaskan. Petugas medis yang membawa Alvi hampir saja kena hajarnya. Cacian dan makian berlompatan keluar dari mulutnya. Namun terkadang ia menghiba minta dilepaskan. Saat pandangannya berebenturan denganku, ia Nampak begitu menaruh harapan padaku. Harapan yang sia-sia, sebab rumah sakit jauh lebih tepat untuknya saat ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Gimana keadaan Alvi?” Tanya Kak Dani sepuluh hari kemudian di beranda samping.

“Sedikit lebih baik.” Sahutku datar, tanganku sibuk mengibas mengusir seekor lebah yang nyasar kedepan hidungku.

“Om?” “Sangat terpukul. Tapi kayaknya Papa bisa ngambil pelajaran yang sangat berharga dari semua ini. Dia sekarang sedikit banyak mau memperhatikan Alvi, dan yang paling penting sekarang darah tingginya gak gampang kumat lagi kalo ngedenger krtitikkan oranglain.”

“Alhamdulillah kalo gitu”. Kak Dani melihat ke sekeliling halaman. Seperti biasa rumah sepi. Hari belum lagi sore. Papa masih lama pulang dari kantor. Tante Vina juga begitu.

“Baiknya sehabis selesai paket terapinya apa yang harus Alvi lakuin, Kak? Lala takut Alvi masih belum benar-benar bisa ngelepasin diri dari pengaruh obat-obatan itu.”

“Keimanan itu faktor paling utama untuk membentengi diri dari pengaruh-pengaruh buruk dari luar. Untuk membentuk keimanan yang kukuh diperlukan pendidikan agama yang memadai, La” aku termenung. Pendidikan agama yang memadai. Ya. Alvi tidak pernah mengenalinya. Situasi rumah kurang kondusif. Aku merasa malu telah melupakan Alvi yang seharusnya lebih tepat mendapat sentuhan dakwah dariku.. bagaimanapun Alvi juga adalah korban dari keegoisanku. Malu aku. Seorang aktifis muda yang aktif ternyata melupakan seorang yang paling dekat hingga dia nyaris tak pernah mengenal Tuhannya.

“Lebih baik Alvi masuk pesantren, Kak?” aku menyimpulkan.

Kak Dani mengangguk. “Banyak pesantren bagus dalam pendidikannya sekaligus tepat untuk proses rehabilitasi.” Ujarnya meyakinkan ketika melihat seberkas keraguan diwajahku. “Moga Papa bisa nerima rencana ini dan Allah ngembaliin Alvi kayak dulu lagi”. Kak Dani mengamini perkataanku, bersama hembusan angin yang sepoi-sepoi. Bunga-bunga alamanda kuning terangguk-angguk. Secangkir teh hangat kuteguk perlahan. Masih. Masih ada harapan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Gerimis bulan November menyambut kedatanganku. Papa menggandeng tanganku menuju seorang lelaki paruh baya berpakaian koko dengan kopiah putih yang menyambut kami dengan senyum. Dan tak lupa Mama pun mengiri langkah kami.

“Bagaimana keadaan Alvi, Ustadz?” Tanya Papa setelah mengucap salam dan bertanya kabar sekedar basa-basi.

“Alhamdulillah, selam tiga bulan ini Alvi mengalami kemajuan yang pesat. Dia dapat mengikuti pelajaran-pelajaran dan program-program yang ada di pesantren ini dengan baik. Kemampuan adaptasinya juga lumayan. Bapak dapat menemuinya sekarang.” Kata Ustadz Ahmad dengan ramah.

Setelah melintasi halaman pesantren yang luas dan asri, serta koridor yang bersih kemudian menunggu diruang tamu. Akhirnya Alvi berada dihadapanku. Malu-malu ia menatapku, Papa juga Mama. Kini ia tampak begitu rapi dan bersih. Wajahnya sejuk dan penuh kedamaian. Baju koko putih yang ia kenakan itu hadiah dariku. Tampak pas sekali dibadannya.

“Betah disini?” tanyaku

“Ini surga yang aku cari, Kak” Alvi menggenggam jemariku. Dan kurasakan aliran kebahagiaannya menyatu kedalam tubuhku.

“Makasih Kak buat semua cinta dan doanya.”

“Itu semua karena Allah sayang” ujarku berkaca-kaca.

Diluar gerimis telah berhenti. Matahari sedikit demi sedikit mulai memberanikan diri mengintip dari balik awan. Tiba-tiba untuk pertama kalinya aku melihat pelangi yang melengkung indah dilangit utara pada musim hujan ini. Pelangi pertama di akhir bulan November.

“Papa dan Mama dilupain nih, Al?” Celetuk Papa tiba-tiba. Alvi dan aku tersentak.

“Eh…iya…ya..!” segera Alvi mencium tangan Papa dan Mama.

Mereka sangat bahagia saat memeluk Alvi dengan erat. Tiba-tiba saja mukaku terasa panas. Airmata merebak memenuhi pelupuk mataku. Telah berapa lama kasih ini hilang? Saat itu sore yang berhias pelangi bertaburkan banyak cinta.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TUHAN



Aku mencintaiMu
Aku merasakan nikmatMu
Dilahirkan dan dibesarkan tak luput dari genggamanMu
Diantara setan dan senyum menggoda siap menerkamku
Dan terbuatlah lingkaran dosa yang seratus persen menjadi kejijikanMu
Bukan aku melupakanMu
Tapi imanku yang sebesar telunjuk belum mampu untuk berseteru
Dalam menghadapi makhluk yang menjadi rival buyut bagi manusia
Seakan terombang dalam menyisihkan dosa dan amal padaMu
Hingga tergelincir dan bangkit untuk mencoba mendekat
Dan berpihak untuk menunjukan bakti kepadaMu
Untuk seterusnya yang kuingat adalah:
FirmanMu sebagai pemandu jalan hidupku


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS